Minggu, 20 Januari 2013

Berani Memilih, Berani Bertanggung Jawab


Ketika saya membaca buku biografi politik Akbar Tandjung, saya terusik dengan sebuah ajaran kehidupan yang Akbar Tandjung berikan kepada anak-anaknya, yaitu : “Terhadap suatu hal yang kita pilih, kita harus bertanggung jawab atas apa yang menjadi konsekuensi dari pilihan tersebut”. Atau mungkin dengan kata lain “Berani memilih, berani bertanggung jawab”.


Dalam hidup kita, sering kali atau bahkan setiap saat kita selalu dihadapkan pada sebuah pilihan. Pilihan-pilihan hidup itu membuat kita merasa sulit yang kemudian menjadikan kita berada dalam suatu titik bernama kebingungan. Namun, pada akhirnya toh kita tetap harus memilih pilihan-pilihan hidup yang tersaji dihadapan kita itu.


Dalam perjalanan hidup kita dalam menentukan pilihan-pilihan hidup, kita tidak sendiri. Terkadang, bahkan setiap saat, sebelum kita memutuskan suatu pilihan hidup, kita berkonsultasi dengan orang tua, sahabat, dan orang-orang yang kita percaya. Dalam konsultasi itu, seringkali muncul saran dari orang tua, sahabat, dan orang-orang yang kita percaya tersebut yang terkesan mengarahkan kita pada suatu pilihan. Ya, sekali lagi bahwa hasil konsultasi tersebut terkadang terkesan mengarahkan kita pada suatu pilihan. Apakah ini sebuah masalah? Tidak!. Karena pada hakikatnya, kita harus mampu untuk menjadikan  semuanya itu kembali kepada diri kita sendiri. Artinya, dalam memutuskan pilihan mana yang kita ambil , tidak boleh ada paksaan dari pihak manapun (orang tua, sahabat ataupun orang yang kita percaya).


Atas putusan yang kita ambil tersebut, maka kita harus siap menghadapi segala macam konsekuensi. Kita harus bertanggung jawab atas pilihan kita.  Inilah yang saya sebut diatas dengan : “Berani Memilih, Berani Bertanggung Jawab”. 


sumber : www.google.com
Namun, dalam kehidupan kita sehari-hari, kadang kita terjebak pada suatu pemahaman bahwa ketika kita memilih akan ada penyebabnya. Misalkan, ketika kita menjatuhkan pilihan A karena disebabkan oleh sesuatu B (bisa karena sesuatu kondisi, ajakan orang lain, dll). Tapi karena pilihan A itu merugikan atau paling tidak ada hal yang tidak kita senangi setelah memilih A, kita kemudian berpikir untuk mungkin menyalahkan atau menyesali sesuatu B itu (menyalahkan keadaan, menyalahkan orang lain, dll).  Hal-hal seperti ini yang masih terkadang berada dalam pikiran kita, pun saya, terkadang masih berpikiran akan hal itu.


Inilah problematika kehidupan yang seakan belum bisa hilang dari manusia, belum berani bertanggung jawab akan pilihan-pilihan hidup yang kita tentukan. Kadang kita mengeluh, kadang juga kita menyalahkan keadaan. Bagi saya, itu fitrah manusia, tapi, sampai kapan kita harus terus mengeluh? Sampai kapan kita harus terus menyalahkan keadaan ketika pilihan-pilihan yang kita jatuhkan sendiri itu tidak memberi efek positif dalam kehidupan kita?


Tidak berguna kita menyesali pilihan yang kita ambil. Life must go on! Yang harus kita lakukan adalah mengambil pilihan yang terbaik. Hidup pun ada di tangan kita sendiri. Apapun hasilnya, apapun resikonya, itu adalah buah dari pilihan yang kita jatuhkan sendiri.


“So, berani memilih, berani bertanggung jawab “. Jangan lupa untuk selalu menyertakan Allah Swt dalam  setiap keputusan yang kita ambil. Semoga ini memberi hikmah untuk kita semua J


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar