Jumat, 05 April 2013

Berani Menjelaskan Alasan, Bukan Menunggu Angin dan Tiupan

Silahkan para pembaca yang budiman untuk menafsirkan sendiri makna dari judul postingan ini. Malam ini gue cuma mau bilang bahwa gue terkesima akan "sesuatu". Sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Sesuatu yang mungkin entah suatu kebetulan atau bagaimana gue menemukannya. Sesuatu yang membuat gue harus berpikir lebih serius lagi, berpikir lebih jernih lagi. Semoga Allah Merahmati dan Memberkahi....

Jumat, 29 Maret 2013

Sebuah Kisah


Sebuah kisah
Ketika aku sedang bermimpi
meranah daratan,jelajahi puncak dunia
membelah lautan,mengarungi samudera
sebuah mimpi
yang kuhantarkan saat ini
bagi ku, dan  bagi angkatanku

Sebuah kisah
Yang terjadi begitu rupa
oleh angan yang selama ini ku cari
Cinta
tentang arti dan keindahannya

. . .

Malam yang indah
Saat anganku berlabuh disebuah pantai
mengusap keringat sehabis perjalanan yang melelahkan
Malam yang indah
saat aku memandang lautan
mencari kebahagiaan yang selama ini aku cari


Aku berbaring,
Aku coba menikmati saat saat ini
Seperti sesuatu yang sangat indah
Dan tidak ingin kulepaskan hingga mimpi ini berakhir.

Hembusan angin malam
Hamparan pasir
Sapaan lembut sang purnama
Lambaian tumbuhan pesisir
Kicau burung
Deru ombak
Awan putih
Langit biru

Ini cinta yang sesungguhnya
Cinta itu menceritakan sesuatu
Cinta itu membuat kita merasakannya
Cinta itu sebuah harmoni
Cinta itu perpaduan keindahan

FHUI 2011
Ini bukan puisi jalanan
Bukan pula sebatas bacaan penghantar
Hanya sepenggal cerita bebaju harapan
sedikit sentilan berbalut syair

Untuk menyadari
Bahwa kita adalah sebuah potret cinta
Yang diukir dalam sebuah bingkai

Bagaimana mungkin
Sekelompok pepohonan,sekelompok burung,sekelompok awan dan sekelompok yang lain
Dapat memperlihatkan sebuah keindahan?

"Kecuali hanya bila mereka bersatu."

Makrab ini, adalah momentum buat kita
Menyadari akan potret cinta yang selama ini kita jalin
Biarpun raga dan fisik nantinya akan berpisah
Tapi biarlah hati dan jiwa kita terus menyatu, selamanya..........


Sebuah kisah.

created by : W & A.
Disampaikan dalam Makrab Angkatan FHUI 2011 , 15-17 Maret 2013 di Villa Krakatau Surf, Anyer.

Rabu, 20 Februari 2013

Poligami Politik Pak Presiden


Oleh : Andi Aulia Rahman (Mahasiswa FHUI Angkatan 2011)

Status “gawat darurat” Partai Demokrat menghiasi media beberapa minggu terakhir ini. Berdasar kepada menurunnya elektabilitas Partai Penguasa ini, Majelis Tinggi Partai Demokrat akhirnya mengeluarkan 8 langkah penyelamatan partai. Singkatnya, langkah tersebut adalah dengan pengambilalihan kepemimpinan partai yang selama ini dipegang oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) yang dikomandoi oleh Ketua Umum Anas Urbaningrum  kepada Majelis Tinggi Partai Demokrat.

Namun, langkah penyelamatan tersebut mengundang reaksi yang sangat keras dari berbagai kalangan, baik itu para pengamat politik, politisi bahkan dari masyarakat luas. Reaksi tersebut bukan karena adanya langkah penyelamatan Partai Demokrat yang dilakukan oleh Majelis Tingginya, melainkan reaksi yang dimaksud adalah dikarenakan langkah penyelamatan tersebut dikomandoi oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Ketua Majelis Tinggi yang juga merupakan Presiden RI. Presiden kita.


Ujung-ujungnya rakyat juga yang kena imbasnya. Rakyat kini menjadi cemas dan bertanya-tanya : Bagaimana kemudian prioritas kinerja seorang SBY yang disatu sisi memegang kendali Majelis Tinggi dan di sisi lainnya sebagai Presiden RI hasil pilihan rakyat? Akankah SBY masih memikirkan rakyatnya ditengah berbagai persoalan politik,ekonomi,sosial budaya yang menghantam? Tentu saja, secara logis dapat dikatakan bahwa dengan turun langsungnya SBY mengurusi internal Partai Demokrat ini akan secara langsung mengganggu kinerjanya di Pemerintahan dan pada akhirnya, tingkat kepuasan rakyat kepada Pemerintah akan semakin menurun. Padahal, pemerintahan SBY tidak lama lagi akan berakhir, yakni kurang lebih sekitar 20 bulan lagi

Turun langsungnya SBY dalam mengurusi internal Partai Demokrat ini juga berimbas kepada turunnya kepercayaan publik kepada pemerintahan SBY. Pasalnya, beberapa bulan sebelum adanya keputusan pengambil alihan Partai Demokrat ini, SBY berpesan kepada  para menterinya yang nota bene adalah orang partai, bahkan beberapa diantaranya adalah Ketua Umum Partai, untuk lebih fokus pada kinerjanya sebagai  menteri. Pernyataan ini jelas sangat kontradiktif. Oleh karena itu, dampak yang juga akan muncul adalah adanya suri teladan yang negatif kepada para menteri. Pemimpin kabinetnya saja begitu. Ya begitulah kira-kira anggapan sang menteri. Tak mengherankan pula, jika dalam Survei yang dilakukan oleh Lingkaran Survey Indonesia (LSI) , dijelaskan bahwa 57,78 persen publik yang tidak puas dengan kinerja menteri-menteri di Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II hingga saat ini.

Atas fenomena ini, saya mendukung pendapat banyak pihak yang menganggap fenomena ini adalah bagian daripada “poligami politik” yang dilakukan oleh SBY. Layaknya seorang lelaki yang berpoligami, maka lelaki itu dituntut untuk berlaku adil dan membagi cintanya terhadap kedua isterinya. Tapi, bagi saya poligami itu tidak baik, susah untuk berlaku adil, dan pada akhirnya akan ada satu yang dikorbankan. Dan oleh karenanya, menurut saya, problematika ini akan dapat diselesaikan dengan cara SBY haruslah fokus memilih satu diantara dua tugas berat ini. Kalaupun pada akhirnya harus memilih untuk fokus mengurusi internal Partai, SBY harus melakukan cuti dari jabatannya sebagai Presiden. Mekanisme cuti ini dapat dilihat dari kasus yang terjadi di beberapa negara yakni Presiden Ekuador yang cuti karena fokus kampanye partai ataupun Obama yang pernah cuti untuk liburan.

Akan tetapi, sebagai negarawan, tentu rakyat sangat menyarankan agar SBY tidak memilih hal diatas (mengurusi partai) melainkan lebih memilih untuk fokus pada kinerjanya sebagai seorang Presiden.  Tidak bisa dpungkiri bahwa Indonesia saat ini membutuhkan kinerja pemerintahan yang lebih fokus dalam mengurusi rakyat dan salah satu caranya adalah kepemimpinan yang kuat melalui komando seorang Presiden.

Sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan yang sedang mengemban amanah besar dari rakyat, tentu saja SBY sudah selayaknya memfokuskan diri untuk mengurusi kepentingan rakyat. Bukankah sejatinya, setelah  seseorang diangkat menjadi  Presiden , maka seketika itulah amanah untuk membangun bangsa ini melalui kinerja yang maksimal diembannya?

Semoga SBY lekas sembuh dari “poligami politik” ini.  

sumber gambar : www.google.com

Rabu, 06 Februari 2013

Pidato Perpisahan di Wisuda SMAN 28 Jakarta - 2011


Kawan, sedikit mau share rekaman pidato sewaktu mewakili angkatan 2011 dalam Wisuda Perpisahan SMAN 28 Jakarta Tahun 2011 :) Yeah, almost 2 years ago


#Part1


#Part2


Sebagian foto kenangan selama di 28 :


Keluarga OSIS MPK SMAN 28 Jakarta Periode 2009-2010 "Pratiksa"


Keluarga Pratiksa :D hahaha


Tetris ! Ten Three in Style (Kelas X.3)


Alhamdulillah, dpt Juara 1 Lomba Pengetahuan Hukum Antar Pelajar :)


Keluarga IPS 28-2011




Hahaha, ini H-1 Bulan Ujian Nasional 2011 


Alhamdulillah, Juara III Lomba Cerdas Cermat MPR-RI (@ TVRI)



Diskusi tentang "Pengelolaan Sampah" , di TVRI 


Tim Mini Soccer 28  


THIS!!!! ROHIS AL-FATIH 2011


Senin, 04 Februari 2013

Nothing's Gonna Change My Love For You


If I had to live my life without you near me
The days would all be empty
The nights would seem so long
With you I see forever oh so clearly
I might have been in love before
But it never felt this strong
Our dreams are young and we both know
They'll take us where we want to go
Hold me now
Touch me now
I don't want to live without you

Nothing's gonna change my love for you
You ought to know by now how much I love you
One thing you can be sure of
I'll never ask for more than your love
Nothing's gonna change my love for you
You ought to know by now how much I love you
The world may change my whole life through
But nothing's gonna change my love for you

If the road ahead is not so easy
Our love will lead the way for us
Like a guiding star
I'll be there for you if you should need me
You don't have to change a thing
I love you just the way you are
So come with me and share the view
I'll help you see forever too
Hold me now
Touch me now
I don't want to live without you

Nothing's gonna change my love for you
You ought to know by now how much I love you
One thing you can be sure of
I'll never ask for more than your love
Nothing's gonna change my love for you
You ought to know by now how much I love you
The world may change my whole life through
But nothing's gonna change my love for you
Nothing's gonna change my love for you
You ought to know by now how much I love you
One thing you can be sure of
I'll never ask for more than your love

Nothing's gonna change my love for you
You ought to know by now how much I love you
One thing you can be sure of
I'll never ask for more than your love
Nothing's gonna change my love for you
You ought to know by now how much I love you
The world may change my whole life through
But nothing's gonna change my love for you
Nothing's gonna change my love for you
You ought to know by now how much I love you
One thing you can be sure of
I'll never ask for more than your love

Selasa, 22 Januari 2013

Buah dari Kebaikan Hati : "Jodoh yang Baik"

Sedikit akan berbagi sebuah kisah inspiratif dari seorang pemuda bernama Said bin Ibrahim.
Pada suatu ketika Said bin Ibrahim berjalan di sebuah perkampungan dan menemukan sebuah Jambu yang baru saja jatuh dari pohonnya. Seketika itu, Said bin Ibrahim pun memakan buah jambu itu sampai setengahnya. Setelah buah jambu itu tersisa setengahnya, Said bin Ibrahim pun tersadar bahwa yang dimakan itu adalah bukan miliknya. Seketika itu, Said bin Ibrahim merasa bersalah karena telah memakan sesuatu yang bukan haknya (miliknya).
Merasa telah memakan buah jambu yang bukan miliknya itu, Said bin Ibrahim pun berusaha menemui pemilik pohon jambu tersebut. Tak berapa lama kemudian, pemilik pohon jambu itu berhasil ditemui. Said bin Ibrahim pun mengajukan permohonan maaf kepada sang pemilik dan meminta untuk dihalalkan buah jambu yang telah masuk kedalam perutnya.
Sang pemilik, tidak serta merta mengabulkan permohonan maaf Said bin Ibrahim. Pun juga tidak serta merta menghalalkan setengah buah jambu yang telah masuk ke dalam perut Said bin Ibrahim. Sang pemilik bersedia memberi maaf dan menghalalkan buah jambu itu dengan satu persyaratan yaitu : Said bin Ibrahim harus bersedia menikahi anak gadis dari Sang pemilik jambu itu. Namun, sebelumnya, sang pemilik menjelaskan bahwa  anak gadisnya adalah seorang yang tuli, bisu, buta dan lumpuh.
Mendengar persyaratan tersebut, Said bin Ibrahim pun terkejut. Pertanyaan yang menghantuinya adalah bagaimana mungkin ia menikahi seorang gadis yang tuli, bisu, buta dan lumpuh? Namun, karena merasa perbuatannya yang telah memakan sesuatu yang bukan miliknya dapat diganjar neraka oleh Allah Swt, dan atas dasar rasa takut kepada Allah Swt, maka Said bin Ibrahim pun menyanggupi persyaratan sang pemilik jambu tersebut.
Akhirnya, pada saat itu juga dihadirkanlah 2 orang saksi dan diadakan pula mahar untuk menjalankan proses ijab-qobul. Akhirnya, Said bin Ibrahim dan Anak Gadis Sang pemilik Jambu pun resmi sebagai pasangan suami-isteri. Mertuanya (sang pemilik pohon jambu) pun menyuruh Said bin Ibrahim mendatangi isterinya.
Said bin Ibrahim pun mendatangi isterinya yang telah menunggu di dalam kamar. Ketika memasuki kamar isterinya, Said bin Ibrahim pun mengucapkan salam dan seketika itu dijawab oleh isterinya dengan jawaban salam pula. Sang isteri yang memakai cadar tersebut pun melangkahkan kaki ke arah Said bin Ibrahim. Namun, belum sampai sang isteri di hadapannya, Said bin Ibrahim pun segera kembali ke mertuanya dan bertanya, kenapa sebelumnya disebutkan bahwa sang isteri adalah gadis yang tuli, bisu, buta dan lumpuh padahal sang gadis bisa menjawab salam-nya dan berjalan kearah-nya?
Akhirnya, sang mertua menjelaskan hal-hal berikut kepada Said bin Ibrahim :
1. Saya bilang dia Tuli karena anakku tidak pernah mendengar omongan-omongan yang tidak bermakna.
2. Saya bilang dia Bisu karena anakku tidak pernah berkata sesuatu yang sia-sia.
3. Saya bilang dia Buta karena anakku tidak pernah melihat sesuatu yang tidak bermanfaat.
4. Saya bilang dia Lumpuh karena anakku tidak  pernah berjalan dan melangkahkan kaki ke tempat-tempat maksiat.
Seketika itu, Said bin Ibrahim pun mengerti makna dari kejadian-kejadian yang telah ia lalui sebelumnya. Ia percaya bahwa ini adalah bagian dari karunia Allah Swt yang memberikan dia hadiah (jodoh) yang baik karena kebaikan hatinya
Akhirnya, kedua insan tersebut membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah dan dikaruniai anak yang salah satunya adalah : Abu Hanifah, yang kemudia kita kenal sebagai salah satu Imam Mazhab (Mazhab Hanafi).

Semoga bermanfaat. @andiauliar

sumber gambar : http://ri32.wordpress.com

Senin, 21 Januari 2013

Minggu, 20 Januari 2013

Berani Memilih, Berani Bertanggung Jawab


Ketika saya membaca buku biografi politik Akbar Tandjung, saya terusik dengan sebuah ajaran kehidupan yang Akbar Tandjung berikan kepada anak-anaknya, yaitu : “Terhadap suatu hal yang kita pilih, kita harus bertanggung jawab atas apa yang menjadi konsekuensi dari pilihan tersebut”. Atau mungkin dengan kata lain “Berani memilih, berani bertanggung jawab”.


Dalam hidup kita, sering kali atau bahkan setiap saat kita selalu dihadapkan pada sebuah pilihan. Pilihan-pilihan hidup itu membuat kita merasa sulit yang kemudian menjadikan kita berada dalam suatu titik bernama kebingungan. Namun, pada akhirnya toh kita tetap harus memilih pilihan-pilihan hidup yang tersaji dihadapan kita itu.


Dalam perjalanan hidup kita dalam menentukan pilihan-pilihan hidup, kita tidak sendiri. Terkadang, bahkan setiap saat, sebelum kita memutuskan suatu pilihan hidup, kita berkonsultasi dengan orang tua, sahabat, dan orang-orang yang kita percaya. Dalam konsultasi itu, seringkali muncul saran dari orang tua, sahabat, dan orang-orang yang kita percaya tersebut yang terkesan mengarahkan kita pada suatu pilihan. Ya, sekali lagi bahwa hasil konsultasi tersebut terkadang terkesan mengarahkan kita pada suatu pilihan. Apakah ini sebuah masalah? Tidak!. Karena pada hakikatnya, kita harus mampu untuk menjadikan  semuanya itu kembali kepada diri kita sendiri. Artinya, dalam memutuskan pilihan mana yang kita ambil , tidak boleh ada paksaan dari pihak manapun (orang tua, sahabat ataupun orang yang kita percaya).


Atas putusan yang kita ambil tersebut, maka kita harus siap menghadapi segala macam konsekuensi. Kita harus bertanggung jawab atas pilihan kita.  Inilah yang saya sebut diatas dengan : “Berani Memilih, Berani Bertanggung Jawab”. 


sumber : www.google.com
Namun, dalam kehidupan kita sehari-hari, kadang kita terjebak pada suatu pemahaman bahwa ketika kita memilih akan ada penyebabnya. Misalkan, ketika kita menjatuhkan pilihan A karena disebabkan oleh sesuatu B (bisa karena sesuatu kondisi, ajakan orang lain, dll). Tapi karena pilihan A itu merugikan atau paling tidak ada hal yang tidak kita senangi setelah memilih A, kita kemudian berpikir untuk mungkin menyalahkan atau menyesali sesuatu B itu (menyalahkan keadaan, menyalahkan orang lain, dll).  Hal-hal seperti ini yang masih terkadang berada dalam pikiran kita, pun saya, terkadang masih berpikiran akan hal itu.


Inilah problematika kehidupan yang seakan belum bisa hilang dari manusia, belum berani bertanggung jawab akan pilihan-pilihan hidup yang kita tentukan. Kadang kita mengeluh, kadang juga kita menyalahkan keadaan. Bagi saya, itu fitrah manusia, tapi, sampai kapan kita harus terus mengeluh? Sampai kapan kita harus terus menyalahkan keadaan ketika pilihan-pilihan yang kita jatuhkan sendiri itu tidak memberi efek positif dalam kehidupan kita?


Tidak berguna kita menyesali pilihan yang kita ambil. Life must go on! Yang harus kita lakukan adalah mengambil pilihan yang terbaik. Hidup pun ada di tangan kita sendiri. Apapun hasilnya, apapun resikonya, itu adalah buah dari pilihan yang kita jatuhkan sendiri.


“So, berani memilih, berani bertanggung jawab “. Jangan lupa untuk selalu menyertakan Allah Swt dalam  setiap keputusan yang kita ambil. Semoga ini memberi hikmah untuk kita semua J


Minggu, 25 November 2012

Mendobrak Kebisuan dengan Keberanian

Bagaimana kita bisa mencintai sesama kalau kita diam. Kalau kita diam dan merasakan diri kita NETRAL, nggak berbuat apa-apa, maka sebetulnya secara tidak langsung kita telah ikut menindas rakyat. Karena dengan diam, kita menopang kekuasaan.

Dalam masyarakat yang diam sebetulnya hal yang paling utama untuk dilakukan adalah mendobrak kediaman/kebisuan dengan contoh-contoh keberanian. Dan yang terpenting ditunjukkan adalah mengajarkan keberanian.

- Pius Lustrilanang, "Menolak Bungkam" -

Jumat, 16 November 2012

Nasihat untuk Seorang Pemimpin

Kisah ini diambil dalam Buku "Agar Allah Selalu Memberi Jalan Keluar" karya Abu Firly Bassam Thaqiy

Adalah Ali Syaqiq bin Ibrahim Al Azdi yang hidup di daerah Balkh pada kurun abad ke 8 M. Selain berdagang, ia ikut berperang juga di medan jihad.

Suatu waktu, ia menunaikan ibadah haji ke Makkah. Dalam perjalanannya ke Ka'bah dia singgah di Baghdad dan bertemu dengan Khalifah Harun Al-Rasyid di Istana Raja.

"Wahai Syaqiq, berilah aku nasihat!" sahut Khalifah. Syaqiq pun mulai memberikan nasihatnya.

"Allah Yang Maha Besar telah memberimu kedudukan Abu Bakar dan Dia menghendaki kesetiaan darimu. Allah memberimu kedudukan Umar yang dapat membedakan kebenaran dan kepalsuan, maka Dia menghendaki hal yang sama darimu. Allah memberimu kedudukan Utsman yang memiliki kesederhanaan dan kemuliaan. Allahpun juga memberimu kedudukan Ali yang Dia berkahi dengan kebijaksanaan dan sikap adil, maka bijaksana dan adillah"

Khalifah tampak sungguh-sungguh mendengarkan uraian Syaqiq; Lanjutkan," pinta sang khalifah.

"Allah mempunyai tempat yang diberi nama neraka. Ia mengangkatmu menjadi penjaganya dan mempersenjataimu dengan 3 hal, kekayaan, pedang dan cemeti untuk mengusir mereka dari neraka. Jika ada yang datang meminta pertolonganmu, janganlah bersikap kikir (kekayaan). Jika ada yang menentang perintah Allah, perbaikilah dirinya dengan cemeti. Dan jika ada yang membunuh saudaranya, tuntutlah pembalasan yang adil dengan pedang itu," lanjut Syaqiq.

"Tambah lagi," desak Raja Harun Al Rasyid.

"Engkau adalah sebuah telaga dan anak buahmu adalah anak sungainya. Apabila telaga itu airnya bening, maka niscaya tidak akan keruh anak-anak sungai itu. Namun apabila telaga itu keruh, bagaimana mungkin anak-anak sungai akan bening?"

"Teruskan," seru Raja Harun Al Rasyid penasaran.

"Seandainya engkau hampir mati kehausan di tengah padang pasir dan pada saat itu ada seseorang menawarkan segelas air, berapakah harga yang berani engkau bayarkan untuk mendapatkan air itu?" tanya Syaqiq kepada Raja Harun Al Rasyid.

"Aku akan memberikan setengah dari kerajaanku," jawab sang Khalifah dengan mantap.

"Kemudian andaikan pula air yang telah engkau minum itu tidak dapat keluar dari tubuhmu sehingga engkau terancam binasa, maukah engkau menyerahkan kerajaanmu yang separuhnya lagi untuk mendapatkan kesembuhan?" tanya Syaqiq lebih lanjut.

"Akan kuterima tawaran itu," tegas Raja Harun Al Rasyid.

"Maka mengapa engkau membanggakan diri dengan sebuah kerajaan yang harganya hanya segelas air yang engkau minum lantas engkau keluarkan lagi?"

Mendengar nasihat itu, khalifah pun menangis. Tak lama kemudian, ia melepas kepergian Syaqiq dengan penuh kehormatan



Rabu, 07 November 2012

Video 19th

Thanks buat temen2 yang udh ngucapin, baik yg ada di Video ini maupun yg tidak... Semoga doa temen2 terkabul dan segala yang baik-baik itu kembali ke temen2 juga yaaa :D #terharu hehe

Kamis, 25 Oktober 2012

P.E.M.U.D.A (Refleksi Hari Sumpah Pemuda)



Tulisan ini dimuat di Harian Seputar Indonesia edisi 29 Oktober 2012 :


“Ibarat Matahari,maka Pemuda bagaikan Matahari yang Bersinar tepat Pukul 12 Siang, dimana Matahari sedang dalam panas dan teriknya yang sangat...”
            Begitulah ungkapan dari seorang Ulama Islam,Dr.Yusuf Qardhawi,yang menggambarkan makna pemuda.Beliau mengatakan bahwa Pemuda yang kalau diibaratkan dengan matahari, maka”sinar”nya sama dengan sinar matahari pada pukul 12 siang,yang sangat panas dan terik.Makna sinar disini dapat kita definisikan secara sederhana dengan kata semangat.Semangat seseorang pemuda memang bak gelombang air laut yang tak pernah berhenti.
Sekilas Tentang Pemuda dan Sejarah Perjalanan Bangsa
            Berbicara tentang pemuda dan kaitannya dengan sejarah perjalanan bangsa Indonesia,ada 2 (dua) momentum penting dimana peran pemuda sangat mendominasi.Pertama adalah Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928.Peristiwa Sumpah Pemuda ini menjadi tonggak awal bangkitnya gerakan pemuda untuk melawan penjajah.Dengan sumpah pemuda,semangat pemuda yang awalnya bersifat kedaerahan berubah menjadi semangat persatuan dan kesatuan.
            Peristiwa kedua adalah ketika runtuhnya rezim orde baru tahun 1998.Ketika itu, gelombang aksi massa besar-besaran yang dimotori kalangan mahasiswa (pemuda) mengepung Gedung DPR/MPR dan berakhir ketika Presiden Soeharto menyatakan berhenti dari jabatannya setelah berkuasa selama 32 tahun.Mahasiswa pun menyambut era reformasi dengan penuh harap akan pemerintahan yang lebih baik dan kondusif.Dua peristiwa penting tersebut telah menjadi bukti betapa semangat pemuda yang begitu menggebu-gebu telah membawa bangsa kepada sebuah perubahan.
Pemuda Indonesia Masa Kini
Indonesia adalah bangsa yang besar.Bangsa yang memiliki SDM dan SDA yang melimpah.Kebebasan berpendapat dan berekspresi juga telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam perjalanan bangsa di era reformasi ini. Namun,nyatanya,permasalahan krusial seperti korupsi,kemiskinan dan kriminalitas masih belum bisa “menghilangkan dirinya” dari headline-headline surat kabar di negeri kita.Pun juga dengan banyaknya utang negara dan mahalnya biaya pendidikan dan kesehatan.
Untuk mengatasi berbagai permasalahan bangsa tersebut,butuh pemikiran-pemikiran baru yang kreatif dan solutif.Oleh karenanya, kita berharap muncul pemuda yang tampil di depan sebagai bagian dari representasi golongan masyarakat yang memiliki idealisme.Karena,keberhasilan perjalanan bangsa sangat ditentukan oleh keberhasilan para pemudanya dalam  mempersiapkan diri  secara mental maupun intelektualitas.
Bagaimana mewujudkan hal itu?Paling tidak ada 6 (enam) prinsip yang harus dimiliki oleh  seorang pemuda, yaitu:
1.      Peduli. Artinya,jadilah pemuda yang peduli. Peduli terhadap lingkungan sekitar, baik itu lingkungan alam maupun lingkungan sosial.
2.      Empati.Artinya,jadilah pemuda yang memiliki sifat empati.Yang mampu memposisikan diri dalam keadaan   yang sama dengan orang-orang disekitarnya.
3.      Merakyat.Artinya,jadilah pemuda yang merakyat.Pastikan setiap gerak langkah dan tindakan yang kita lakukan sebagai seorang pemuda, adalah demi kepentingan dan kesejahteraan rakyat semata.
4.      Unik.Artinya,jadilah seorang pemuda yang unik.Karena dalam membangun bangsa yang unik ini,dibutuhkan juga pemuda yang unik,unik dalam berpikir dan berprilaku.
5.      Dipercaya.Artinya,jadilah seorang pemuda yang dapat dipercaya.Dipercaya untuk mengemban amanah membawa perubahan untuk bangsa.
6.      Aktif.Artinya,jadilah pemuda yang aktif. Aktif dalam berbagai kegiatan seperti dalam berbagai kegiatan sosial.
 “Bukankah seorang pemuda yang hebat adalah pemuda yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam  memperjuangkan kepentingan rakyat?”
SELAMAT HARI SUMPAH PEMUDA

Jumat, 19 Oktober 2012

Yes, 17 Oktober 2012

Alhamdulillah, 19 Tahun sudah gue terlahir di dunia ini. Ya, 19 tahun ! Bukan 16 atau 17 tahun ya (seperti yang kebanyakan orang mengira umur gue sekarang hahaha :p) 

di Ulang Tahun gue yang ke 19 ini, yang bertepatan juga sama acara Simposium Hukum Nasional 2012 gue mau ngucapin makasih banyak buat :

- Allah Swt, atas anugerah dan karunia-Nya sampai saat ini. 
- Orang Tua dan Keluarga atas seluruh perhatian dan kasih sayang selama ini
- Temen-temen SD, SMP, SMA, Kuliah dan semuanya yang udah ngucapin + ngasi doanya buat gue.

- Dan...... Special buat Ghozi, Egi, Harga, Pahmi, Mput, Athun, Asma, Muthi, Camila, Tita, Iffah yang udah ngeluangin waktu di hari Rabu sore jam 4 di Perpus Pusat buat ngasi  birthday cake-nya. Makasih ya guys, gak bakalan lupa sama yg ini :)

 





Senin, 01 Oktober 2012

Nasihat Imam Syafi'i kepada Para Pengembara Ilmu

" Berangkatlah, niscaya engkau akan mendapatkan ganti dari semua yang engkau tinggalkan. Bersusah payahlah, sebab kenikmatan hidup diperoleh dengan kerja keras. Ketika air mengalir, ia akan menjadi jernih dan ketika berhenti ia akan menjadi keruh. Sebagaimana anak panah, jika tidak meninggalkan busurnya tak akan mengenai sasaran. Biji emas yang belym diolah sama dengan debu di tempatnya. "

Jumat, 24 Agustus 2012

Pahlawan dan Kemerdekaan




Bulan Agustus merupakan salah satu bulan yang dinanti-nantikan oleh segenap bangsa Indonesia. Hal ini dikarenakan pada bulan Agustus, tepatnya tanggal 17, bangsa Indonesia memperingati Hari Kemerdekaan tiap tahunnya. Hari dimana segenap bangsa meluapkan sukacitanya, mengenang sejarah perjuangan bangsa dan memaknainya dengan upacara-upacara dan perlombaan di kampung-kampung.

Berbicara mengenai kemerdekaan, tidak afdhol rasanya kalau kita tidak berbicara pula mengenai pahlawan. Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, banyak sekali pahlawan yang telah gugur dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa. Mereka telah mengorbankan seluruh jiwa dan raganya untuk melawan penjajah. Sebut saja Teuku Umar di Aceh, Tuanku Imam Bonjol di Padang, Pangeran Diponegoro di Jawa Tengah, Pangeran Antasari di Banjar, Sultan Hasanuddin di Makassar, Pattimura di Ambon dan ribuan bahkan jutaan pahlawan lagi yang tersebar di seluruh pelosok negeri.

Namun, pahlawan itu tidak hanya dimaknai secara sempit seperti halnya ulasan diatas. Seiring usia yang makin dewasa ini, perkembangan pemikiran kitapun juga tumbuh. Pahlawan-pahlawan dalam hidup kita terus menerus bermunculan dan tidak lagi hanya sebatas pahlawan nasional yang gugur di medan perang saja, namun juga apa yang disebut dengan "Pahlawan Masa Kini". Sebagai contoh, sejak awal kehidupan yang kita jalani, kita sudah diperkenalkan tentang makna kepahlawanan itu sendiri. Ketika kita menginjak masa sekolah, kita mulai berkenalan dengan sosok "Pahlawan Tanpa Tanda Jasa", yaitu Bapak dan Ibu Guru kita. Dalam mengajar dan membimbing kita, mereka sejatinya tidak meminta imbalan apapun dari kita. Mereka telah mengajarkan kita bagaimana menulis dan membaca. Merekalah yang pada hakikatnya telah membebaskan kita dari belenggu kebodohan. Contoh lain adalah ketika kita mulai bersosialisasi dengan masyarakat, kita seringkali menjumpai makna pahlawan yang lain seperti seorang tetangga yang membantu kita ketika mengalami kesusahan. Dan masih banyak lagi contoh pahlawan masa kini yang terus menerus mengisi kehidupan kita.

Dalam menghadapi situasi dan kondisi yang serba global seperti sekarang ini, tentu saja kita berharap munculnya banyak pahlawan dalam segala bidang. Apakah itu pahlawan di bidang ekonomi, di bidang politik, ataupun di bidang-bidang lainnya. Dalam artian, bangsa Indonesia sedang membutuhkan banyak pahlawan, yaitu pahlawan yang mampu mewujudkan Indonesia yang aman,tenteram dan sejahtera. Kita mungkin bisa mencatat, bahwa tindakan terorisme masih menghantui negara kita, dalam hal ini Indonesia butuh pahlawan yang berani untuk menangkap pelakunya. Pun juga Indonesia saat ini masih digerayangi dengan tindakan korupsi para penguasa, dalam hal ini Indonesia butuh pahlawan yang berani untuk memberantas korupsi tersebut.

.....

Kepahlawanan ternyata tidak hanya berhenti sampai disana. Dalam mengisi kemerdekaanpun, kita dituntut untuk menjadi pahlawan. Bukankah arti pahlawan itu adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran? Bukankah makna pahlawan itu adalah orang yang gagah berani menentang kedzaliman penguasa? Bukankah hakikat kepahlawanan adalah sifat keperkasaan,kerelaan berkorban, dan kekesatriaan seseorang dalam memperjuangkan hak-haknya? 

Oleh karenanya, setiap orang haruslah berjuang untuk menjadi pahlawan. Karena itu, momentum Hari Kemerdekaan yang diperingati di bulan Agustus ini marilah kita jadikan sebagai acuan untuk tidak hanya memperingati jasa-jasa pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan kita, namun juga kita jadikan sebagai momentum untuk bertanya pada diri kita bahwa : Apakah kita telah mempersiapkan diri kita untuk mengembangkan potensi diri di bidang masing-masing dalam mengisi kemerdekaan?

Semoga kita semua adalah bagian daripada orang-orang yang mempersiapkan diri menjadi pahlawan yang sesungguhnya, yakni Pahlawan yang mampu memberikan kontribusinya untuk bangsa.

Salam Kemerdekaan. Dirgahayu RI ke 67. Jayalah Negeriku, Jayalah Bangsaku !!!

Rabu, 25 Juli 2012

Menanti Pemimpin Baru Indonesia 2014





Tulisan ini terbit di Harian Seputar Indonesia Edisi 19 Januari 2013. 


Masa jabatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)  sudah lebih dari separuh jalan. Itu artinya kurang lebih 1 tahun lagi, proses pergantian kepemimpinan eksekutif di negara kita akan segera berlangsung melalui Pemilihan Presiden (Pilpres). Pilpres tahun 2014 mendatang akan menjadi Pilpres ketiga sepanjang sejarah reformasi di negara kita.

Yang menarik ditunggu dari Pilpres 2014 mendatang adalah akan munculnya pemimpin baru Indonesia. Hal ini dikarenakan, SBY yang saat ini menjabat sebagai Presiden tidak akan mencalonkan diri lagi sebagai Presiden 2014. SBY terbentur dengan aturan konstitusi kita yang menyebutkan bahwa seorang Presiden tidak dapat mencalonkan diri lagi setelah melalui 2 (dua) periode kepemimpinan. Oleh karena itu, dapat dipastikan bahwa Presiden Indonesia 2014 adalah wajah baru. 

Oleh karenanya, tidak bisa dipungkiri, bahwa tahun 2013 ini akan menjadi tahun dimana akan banyak bermunculan tokoh-tokoh, baik dikenal luas ataupun tidak oleh masyarakat, untuk mendeklarasikan dirinya sebagai calon Presiden RI  2014. Akhir-akhir ini, sudah mulai bermunculan tokoh-tokoh yang mendeklarasikan dirinya sebagai Capres 2014, seperti Aburizal Bakrie, Rhoma Irama, dan sederet nama lainnya. Menarik untuk ditunggu bagaimana kemudian para calon Presiden yang sudah mendeklarasikan dirinya ini ataupun yang nantinya akan mendeklarasikan dirinya, dalam melakukan aktivitas politiknya di Tahun 2013 ini. Sudah barang pasti, tahun 2013 ini, mereka akan mulai menjual sederet program yang pro rakyat dan tentu saja : Menjanjikan Perubahan !

Tapi diluar semua itu, ada 2 (dua)  hal yang patut diperhatikan menyambut tahun 2013 ini.
Pertama adalah bagaimana mekanisme partai-partai politik yang ada dalam menjaring Calon Presiden yang akan mereka usung. Saat ini,  sangat disayangkan bahwa masih banyak Parpol yang terjebak dalam “kerajaan elit” sehingga partai hanya dikuasai oleh sebagian kalangan saja yakni kalangan elit partai. Hal ini mengakibatkan calon-calon presiden yang ada hanya didasarkan pada apakah dia seorang elit partai atau tidak. Padahal, kepemimpinan nasional membutuhkan seorang Presiden yang berkualitas dan mampu menjalankan roda pemerintahan dengan integritas dan profesionalitas yang tinggi. Bukan tidak mungkin, calon presiden yang terbaik bisa saja berasal dari luar kalangan elit partai. Oleh karenanya, sebelum benar-benar memasuki tahun 2014, tahun 2013 ini merupakan suatu momentum yang sangat tepat bagi partai-partai politik untuk melakukan pembenahan pada sistem penentuan Capres yang akan diusung agar pada akhirnya nanti dapat terjaring calon-calon Presiden RI yang berkualitas.

Kedua adalah pesan terhadap seluruh bangsa Indonesia. Tahun 2013 ini haruslah kita jadikan momentum untuk mulai melihat kapabilitas para Capres. Marilah mulai hari ini, kita mencoba untuk melihat track record para capres tersebut, agar jangan sampai pada saat Pilpres 2014, kita menjadi pemilih yang asal pilih, tanpa mempertimbangkan kualitas dan track record para calon.

Semoga tahun 2013 ini menjadi tangga awal yang baik bagi parpol, masyarakat dan capres itu sendiri dalam menghadapi tahun politik, 2014. Selamat Menanti !



Minggu, 08 Juli 2012

Sosialisasi Pilkada DKI Anti Politik Uang


Hari ini Kastrat BEM FHUI dengan BEM UI dan beberapa BEM Fakultas mengadakan "Sosialisasi Pilkada DKI Anti Politik Uang" di RW 12 Kelurahan Manggarai Jakarta Selatan. Anak-anak bem FHUI yang berkesempatan ikut acara ini ada Bang Ali (Ketua BEM), Bang Alldo (Wa.Ka.BEM) , Mba Lita (Korbid Sospol) , Bang Rozi (Kadep.Kastrat) dan 3 orang Staf Kastrat : Gue, Gery dan Muthi. Total yang ikut acara ini jumlahnya 18 orang. Lumayan banyak lah .... Awalnya aktivitas ini dijarkomin kumpul di Stasiun UI jam 8 lalu kemudian berangkat bareng-bareng. Tapi karena satu dan lain hal, kami berangkat dari Stasiun UI tepat pukul 10 (telatnya parah, hehe).

Acara ini merupakan bentuk partisipasi Mahasiswa UI dalam melakukan Sosialisasi Pilkada DKI kepada masyarakat Jakarta. Apa yang kami sampaikan? Sederhana saja, dan bahkan tidak banyak yang kami ingin sampaikan, tapi kalau boleh saya ringkas,ada 3 poin penting yang menjadi tujuan kami, yaitu :
1. Mengingatkan kepada warga untuk menggunakan Hak Pilihnya dan datang ke TPS.
2. Mengingatkan kepada warga untuk datang di hari Rabu 11 Juli 2012, pukul 07.00-13.00 di TPS terdekat
3. dan Mengingatkan kepada warga agar jangan sampai terjadi politik uang dalam Pilkada  DKI.

Oke, perjalanan 30 menit kereta membawa kami sampai di Stasiun Manggarai. Setelah itu, kamipun beranjak langsung menuju ke Kantor RW 12 untuk briefing awal acara dengan Perwakilan RW. Jaraknya dengan St. Manggarai ya kurang lebih 1 km lah. Briefingpun dimulai. Menurut Pak RW, ada beberapa kendala yang dihadapi, satu diantaranya adalah adanya salah satu RT yang tidak mengizinkan mahasiswa melakukan sosialisasi, karena mengingat hari ini adalah "Hari Tenang" , yaitu hari dimana tidak boleh ada satupun acara yang ada hubungannya dengan Pilkada. Namun, pihak mahasiswa berdalih bahwa acara ini bukanlah bagian dari kampanya salah satu calon, tetapi bagian dari partisipasi mahasiswa untuk mensosialisasikan acara Pilkada DKI. Bahkan, bisa jadi acara ini membantu meringankan pihak kelurahan dalam pelaksanaan sosialisasi acara. Setelah lama bernegosiasi, maka akhirnya diputuskanlah untuk tetap melanjutkan acara, sesuai dengan izin Pihak RW juga.

Semangat dan Ceria ! 2 kata itu yang menggambarkan pasukan mahasiswa UI dalam sosialisasi ini. Karena di wilayah RW 12 ini ada 10 RT, maka dimulailah dengan pembagian kelompok. . Saya kebetulan ada di Kelompok 1 bersama dengan 5 orang lainnya. Kamipun berpencar sesuai kelompok masing-masing. Kamipun menghampiri warga ataupun kerumunan warga. Kami menjelaskan tentang Pilkada DKI sesuai dengan tujuan awal kita, namun diawali dengan berbincang soal keluhan maupun aspirasi warga yang tak tersampaikan selama ini. Warga terlihat antusias menyampaikan keluh kesahnya maupun harapan-harapannya untuk gubernur terpilih. Sebagian besar keinginan mereka adalah adanya sekolah dan pelayanan kesehatan Gratis. Karena bagi mereka 2 hal itulah yang sangat penting untuk menjami keberlangsungan hidup. Selain itu, jelas tentang kemacetan dan kemiskinan warga ibukota menjadi topik hangat perbincangan kami dengan warga Manggarai.

Tepat pukul 12 lewat, karena sudah seluruh bagian RW 12 telah terjamah oleh kami, kamipun memutuskan untuk berhenti sosialisasi dan kumpul kembali di Kantor RW sembari melakukan Shalat Dhuhur dan dilanjutkan dengan briefing akhir plus pamitan.

Intinya, acara sosialisasi ini mungkin tidak mencakup wilayah yang luas, hanya sebagian kecil dari wilayah DKI Jakarta. Namun, paling tidak, ini menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya mampu melakukan diskusi publik, seminar, dan lain-lain, tapi juga turun langsung melakukan kegiatan kongkrit di lapangan. Semoga sosialisasi ini bermanfaat untuk Jakarta yang lebih baik. Karena Jakarta butuh pemimpin yang solutif dan merakyat.  #UIuntukJakarta.

Salam Mahasiswa !

Jumat, 06 Juli 2012

Do'a Kita Tidak Diterima? Tanya Kenapa?

Suatu hari, seorang Ulama besar di Kota Bashrah, bernama Ibrahim bin Adam berjalan di sekitar pasar kota tempat tinggalnya. Setelah lama mengelilingi pasar tersebut, sampailah beliau pada suatu kerumunan dimana kerumunan itu terdapat banyak sekali penduduk yang sedih, gelisah dan wajahnya penuh dengan tanda tanya. 

Seketika itu, Ibrahim bin Adam pun mendekati kerumunan itu dan angkat bicara. "Ada apa gerangan kalian terlihat sedih dan gelisah?."kata Ibrahim bin Adam. "Yaa Abu Ishak (panggilan penduduk terhadap Ibrahim bin Adam), saat ini kami tengah dilanda kesusahan, kelaparan dan banyak masalah lainnya. Kenapa ketika kami berdo'a kepada Allah Swt, do'a kami tidak dikabulkan? Padahal Allah Swt, berfirman di dalam Al-Qur'an Surah Al-Mu'min ayat 60 yang artinya : Berdoalah kepada-Ku, maka niscaya akan Aku perkenankan (kabulkan). Bagaimana itu bisa terjadi Yaa Abu Ishak?"timpal salah seorang penduduk.



Mendengar pertanyaan itu, Ibrahim bin Adam kemudian menjelaskan kepada penduduk tentang apa yang menyebabkan do'a tidak dikabulkan oleh Allah Swt. Menurut Ibrahim bin Adam, do'a tidak dikabulkan dikarenakan hati manusia sudah "mati". Mati dalam artian sudah tidak ada lagi keterikatan dan hubungan yang kuat antara hati manusia dengan Allah Swt, Sang Pencipta. Apa sesungguhnya yang menyebabkan hati manusia mati dan kemudian do'apun tidak dikabulkan? Menurut Ibrahim bin Adam, ada 5 perkara yang menyebabkan hal tersebut :

1. Kita mengakui keesaan Allah, namun kita tidak memenuhi hak-hak Allah untuk disembah.
2. Kita rajin membaca Al-Quran, namun sifat dan prilaku kita belum mencerminkan apa yang ada dalam Al-
    Quran. 
3. Kita cinta kepada Nabi Muhammad Saw, namun kita meninggalakan pola prilaku & sunnah-sunnah Beliau
4. Kita selalu menyatakan bahwa kita ingin masuk surga, namun prilaku dan keseharian kita justru 
    bertentangan dengan keinginan itu. 
5. Kita selalu menyatakan bahwa kita ingin terhindar dari api neraka, namun kita sendiri mencampakkan diri 
    kita sendiri kedalamnya.

5 Hal inilah yang menurut Ibrahim bin Adam adalah penyebab utama mengapa hati kita dikunci oleh Allah Swt, dan kemudian mengakibatkan do'a kita tidak diterima oleh Allah Swt. Semoga bermanfaat :)

sumber: Khutbah Jumat di salah satu Masjid (6 Juli 2012)

Senin, 28 Mei 2012

Minggu, 27 Mei 2012

#Rindu

#rindu adalah ketika aku berdoa untukmu, hanya aku dan Rabb-ku yang tau :) -@aliabdillah91-

Kalimat ini sebenarnya sederhana, tapi memberi makna yang mendalam. Gak akan lupa dengan kalimat ini sampai kapanpun insya Allah :D